Memilih jalan

Jalan tidak pernah terpisahkan dari kehidupan manusia, karena ialah sarana yang menyampaikan kepada banyak tujuan dan kebutuhan. Manusia semuanya melangkah menuju Allah dan butuh untuk selamat dari siksa Allah. Tapi pernahkah berpikir jalan yang dilalui adalah jalan yang menyampaikan ke tempat tujuan? Adalah jalan orang-orang beriman jalan kebenaran yang memiliki ciri khas tersendiri yaitu tidak akan pernah bertemu dengan jalan kebatilan kapanpun, di manapun. Dan tidak ada jembatan yang menghubungkan antara kebenaran dan kebatilan.

Kebenaran bukan jual beli yang bisa kita tawar sedikit banyaknya harga yang diinginkan. Kebenaran adalah utuh, sedikit dan banyaknya sama yaitu kebenaran yang tidak bisa dibagi. Maka memperjuangkannya secara utuh dan menyeluruh dari syarat yag kecil sampai yang besar. Penduking kebatilan sangat ingin kita duduk bersama mereka, berbagi kekuasaan dalam perjuangan, berlemah lembut, saling membantu, dan bahkan atas nama kerukunan saling berdoa bersama.

“Mereka ingin jikalau kamu berlemah lembut, mereka juga akan berlemah lembut”
(QS. Al Qolam : 8-9)

Apa yang ada di benak pikiran penyembah syahwat? Mereka ingin sekali kita menyimpang, ya.. menyimpang yang besar dari jalan kebenaran.

“Dan orangorang yang memperturutkan hawa nafsunya sangat menginginkan kalian menyimpang dari jalan Allah dengan penyimpngan yang besar.” (QS. An Nisa:27)

Sehingga mengikuti jalan mereka adalah jalan yang menyimpang yang takka pernah sampa tujuan. Kebenaran adalah kesatuan yang takkan pernah bersanding dengan kebatilan, kemungkaran, terlebih kemaksiatan.

Siapa yang menolak zakat, ia sama dengan menolak bersyahadat, karena yang ia tolak sebenarnya kebenaran. Siapa yang tidak beriman kepada para nabi atau salah satunya saja, berarti ia tidak beriman kepada Allah karena yang tidak ia imani kebenaran. Siapa yang membangkang sunah Rasulullah berarti ia membangkang kepada Allah karena yang ia bangkang adalah kebenaran. Maka pembawa kebenaran tidak pernah berserikat dengan pembawa kemungkaran, apalagi sampai duduk bersandng kursi membicarakan kebenaran sekalipun, karena ujugnya toh akan diingkari juga! Ia hanya duduk sesama pembawa kebenaran dalam alur yang sama.

Di balik sikap tegasini, kita pada sisi lain orang yang paling mudah dalam berurusan, banyak senyum, suka membantu, memberi ilmu, bahkan suka memberi kabar gembira, selama halhal di atas tidak menggores sedikitpun dari kebenaran yang menjadi prinsip. Mari kita berjalan di atas jalan sebenar jalan yang menyampaikan, sambil memahami karakter jalan ini, agar tapaktapak pendahulu kita kembali nampak karena penerusnya sangat memperhatikan setiap tapak dan jalan yang pernah dilewati. Semoga bertemu di penghujung jalan nanti. Amin. (Abu Ayyasy) diambil dari majalah al ikhwah. www.alikhwahmaj.blogspot.com

Komentar

Paling banyak dilihat

Allah tujuanku

Yakin dan ikhlas dalam berdoa

Awal Mula Tahun Baru